Karena kedekatannya dengan Amerika Serikat, para penduduk Jamaika dapat menangkap siaran radio Amerika Serikat melalui gelombang AM. Sebagai tambahan, Jamaica merupakan campuran berbagai kultur yang meliputi kultur dari Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, dan Afrika. Masyarakat Jamaica sering memainkan sebuah irama dengan tempo yang lambat di sebut mento, suatu versi lambat dari irama Dansa Cuban-styled yang dikombinasikan dengan irama dari Afrika.
Istilah, Mento, berasal dari bahasa Spanyol yaitu mentar. Hal ini berkaitan dengan keluhan pribadi, masalah sosial, dan lain sebagainya. Tak heran jika di dalam setiap lirik lagu selalu berisi pesan moral dan kritik sosial. Seringkali cara ini digunakan untuk menyerang dan mengkritik orang atau kelompok rasis yang tidak menghargai perbedaan dalam satu Negara khususnya di Jamaika yang kaya akan kultur. Musik ini umumnya dimainkan dengan sebuah nyanyian dengan diiringi oleh perkusi seperti gitar, gitar banjo sehingga tercipta satu keselarasan.
Sepanjang dekade 1940an hingga awal 1950an, R&B Amerika menjadi sangat populer di Jamaica sebagai hasil dari meningkatnya permintaan stasiun-stasiun radio di Jamaika. Pada tahun 1960an, music yang popular di Amerika maka akan popular juga di Jamaica dimana para DJ menggunakan system stereo dengan bas yang sangat besar. Para DJ seringkali mempertunjukkan music mereka di tanah-tanah lapang guna menarik para penonton/penikmat music. Mereka kerapkali menuju ke kota-kota besar untuk melakukan pertunjukkan misalkan Miami, New Orleans
Ska
Di Jamaika juga tumbuh pula jenis music dengan gaya dan bakat bermusik yang berbeda dan baru. Para musisi di Jamaika berkreasi menciptakan sebuah jenis music baru yaitu dengan mengkombinasikan unsur-unsur music R&B, Mariachi, dan alunan jazz. Dimana perpaduan antara instrumen modern dengan alat music tradisional sangat kental terasa. Ska mengkombinasikan sangat banyak macam jenis musik yang berbeda namun mampu menghasilkan satu keserasian dengan beat-beat yang agak menghentak. Beda halnya dengan R&B dimana lebih menonjolkan pada suara bass yang keras, sedangkan pada ska lebih pada keselarasan harmoni dan melodi yang lembut.
Dari berbagai sumber
Minggu, 20 Desember 2009
Rabu, 16 Desember 2009
Sudah siap Memulai Bisnis Internet ?
banyak orang yang memimpikan ingin mendapatkan penghasilan dari internet. Akhir-akhir ini banyak banget tawaran mendapatkan uang melimpah dari bisnis internet, mungkin ini juga yang membuat anda tergiur untuk memulai bisnis internet.
Sebelum anda memulai, mungkin akan saya jelaskan terlebih dahulu kepada anda, bisnis internet tidak mudah! Jangan mau tergiur dengan tawaran overnight rich system atau kaya dalam semalam! anda butuh bekerja!
Beruntung, beberapa waktu yang lalu, sahabat saya membagiakan panduan gratis memulai bisnis internet. What? GRATIS?
Yap anda benar! Gratis!
Disana telah berhasil diungkapkan:
- INTERNET MARKETING : Apa dan Bagaimana?
- Bagaimana anda mensetting kemauan anda untuk kunci Sukses Anda
- 4 Mitos Bisnis Internet - Awas Hal ini membayangi kegagalan anda untuk sukses dalam bisnis internet anda!
- 8 Exact Method Berburu Dollar di Internet. Disinilah anda akan memulainya!
- How To Create Your Own PayPal Account
- Cara mudah mensetting domain dan hosting anda serta bagaimana anda bisa membuat situs pertama anda!
- Traffic : Bagaimana dan Untuk apa? serta penggunaan metode _______ ; ______ dan _______ yang berkaitan dengan mendatangkan traffic!
- dan masih banyak lagi .. beruntungnya semua itu gratis loh!
Ga percaya? silakan akses disini
==>http://pemburudollar.net/?go=4916
Sebelum anda memulai, mungkin akan saya jelaskan terlebih dahulu kepada anda, bisnis internet tidak mudah! Jangan mau tergiur dengan tawaran overnight rich system atau kaya dalam semalam! anda butuh bekerja!
Beruntung, beberapa waktu yang lalu, sahabat saya membagiakan panduan gratis memulai bisnis internet. What? GRATIS?
Yap anda benar! Gratis!
Disana telah berhasil diungkapkan:
- INTERNET MARKETING : Apa dan Bagaimana?
- Bagaimana anda mensetting kemauan anda untuk kunci Sukses Anda
- 4 Mitos Bisnis Internet - Awas Hal ini membayangi kegagalan anda untuk sukses dalam bisnis internet anda!
- 8 Exact Method Berburu Dollar di Internet. Disinilah anda akan memulainya!
- How To Create Your Own PayPal Account
- Cara mudah mensetting domain dan hosting anda serta bagaimana anda bisa membuat situs pertama anda!
- Traffic : Bagaimana dan Untuk apa? serta penggunaan metode _______ ; ______ dan _______ yang berkaitan dengan mendatangkan traffic!
- dan masih banyak lagi .. beruntungnya semua itu gratis loh!
Ga percaya? silakan akses disini
==>http://pemburudollar.net/?go=4916
Selasa, 15 Desember 2009
Pribadi To Do, To Have, atau To Be?
Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.
Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.
Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini. Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.
Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual. Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.
Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.
Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.
Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusur isenja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.
Memaknai hidup
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.
Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.
Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"
Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.
Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua...One Love One Soul..!
Sumber : Pribadi To Do, To Have, atau To Be? oleh Anthony Dio Martin
Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.
Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini. Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.
Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual. Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.
Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.
Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.
Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusur isenja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.
Memaknai hidup
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.
Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.
Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"
Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.
Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua...One Love One Soul..!
Sumber : Pribadi To Do, To Have, atau To Be? oleh Anthony Dio Martin
Langganan:
Postingan (Atom)